Senin, Juni 01, 2009

rontal satu - dara di awal malam (2)

Dyah Kinanti Kencanaartha sedikit bergidik tatkala dicelupkannya kakinya ke air. Hujan baru saja reda, tapi bukan air yang dingin yang membuatnya bergidik. Air kolam itu hangat, panas malah, dan perbedaan suhu yang cukup drastis dengan udara sekitarnya mampu membuat siapapun menggemeretakkan gigi.

Tapi begitu ia meluncur ke dalam air itu sepenuhnya, drastisnya perubahan suhu itu tak lagi dirasanya. Disandarkannya bahunya ke pinggiran kolam, dan dipermainkannya kakinya berkecipak di air. Uap air panas menguar menantang udara malam yang dingin. Bau belerang samar-samar bercampur bau pepohonan yang basah terguyur hujan memenuhi udara. Dan seketika, rasa nyaman memenuhi seluruh syarafnya.

Ia mengurai sanggulnya, dan rambutnya yang kecoklatan meluncur menembus air. Diraihnya botol kuningan yang bertengger di sebentuk baki di pinggiran kolam, dan dialirkannya cairan bening di dalamnya ke telapak tangannya. Aroma campuran bunga mawar dan kenanga menusuk hidung. Itu aroma yang keras, intens. Tetapi begitu air menyentuh dan melarutkannya, aroma itu berangsur memudar, namun tidak hilang. Membaur bersama bau samar belerang, aroma itu meninggalkan jejak nan halus di udara. Harum membelai, lembut menenangkan. Dan kini gadis itu meraih lagi sebentuk gayung kayu kecil dari baki, dan mulai membilas rambutnya dengan cairan yang sama.

Disandarkannya bahunya pada pinggiran kolam, dan matanya menerawang jauh. Melebihi kerimbunan pohon kamboja yang memagari kolam. Melebihi kungkungan tembok di baliknya. Melebihi kelamnya langit tanpa bintang yang masih menyisakan gumpalan awan mendung. Melebihi segalanya.

Kenikmatan semacam ini adalah suatu hal yang sangat langka di zaman itu, di tengah dentang pedang dan deru pemberontakan. Ia tahu, saat ia mendengar samar bunyi kentongan dipalu tatkala ia menyeret selendangnya melintasi jajaran pohon kenanga yang memagari jalan batu menuju taman mandi itu. Ia tahu, tatkala penjaga taman memberitahunya dengan nada ketakutan sewaktu ia menyentuhkan tangan membuka gerbang kayu taman itu. Ia tahu, tatkala ia melambaikan tangan dengan tenang dan tetap melangkah memasuki taman, tak menghiraukan peringatan penjaga, dan si penjaga pun menutup pintu di belakangnya sembari matanya mendelak-delik ketakutan ke segala arah. Ia tahu, dari samar riuh suara di luar sana, bahwa hal buruk itu tak hanya ada dalam khayalnya. Tapi tetap diluncurkannya tubuhnya ke mata air panas itu. Dan selanjutnya, bersama dengan larutnya pikirannya dalam aroma mawar campur belerang yang menguar, perlahan ia pun mulai memutuskan hubungan dengan dunia sekelilingnya.

Tapi sekejap pikiran tenangnya terganggu oleh riuh yang mengguruh. Ia memantapkan pikirannya untuk tidak mendengar apapun, bahwa segala keriuhan itu hanya akan berlangsung sementara. Keriuhan itu wajar, sangat wajar, apalagi jika memang benar kata si penjaga barusan, bahwa ada buronan kabur dan para penjaga penjara sedang mengejarnya. Keriuhan itu hanya akan lewat tak lebih dari semenit. Dan benar saja, semenit, dua menit, tiga menit … Kian lama ia menutup mata, kian samar bunyi kentongan dipalu, dan kian pudar riuh rendah teriakan orang dan derap kuda dipacu. Hingga akhirnya segalanya hilang, dan ia pun membuka mata.

Tapi di sana, segala ketenangan itu mengkhianatinya.

Di sana, di kerimbunan pohon di salah satu sudut tembok yang melingkarinya, ia mendengar suara gemerisik. Sangat jelas. Dan ia tahu benar, dari ujung-ujung dedaunan di pucuk pohon yang tak berdesir, dari langit yang kehilangan awannya setelah hujan berlalu, bukan anginlah yang menyebabkan gemerisik itu.

Dan benar saja, sesosok tubuh menyibak kegelapan. Tampak bagai siluet, hitam dalam latar belakang yang tidak lebih pekat, bergerak menuju ke arahnya.

Gadis itu hampir berteriak, tetapi entah apa yang menahannya, suaranya sendiri mengkhianatinya dengan enggan melewati tenggorokannya.

Siluet itu bergerak, bergerak menuju ke arahnya. Dalam gerakan kasar yang aneh. Seperti mayat hidup.

Gadis itu menahan napas.

Dan sosok itu kian mendekat. Mendekat, mendekat, dan tanpa diduga-duga, tiba-tiba limbung ke arahnya.

Bunyi gedebuk dan cipratan air yang aneh membuat penjaga taman di luar gerbang menghambur dari duduknya. Hanya kesopanannyalah yang masih menahannya untuk tidak menyerbu masuk, dan hanya mengetuk pintu dengan gugup.

“Gusti…,” rasa paniknya, ditambah pikirannya yang tidak-tidak, membuatnya setengah berteriak.

Tidak ada suara apapun dari dalam. Ia pun mengulang teriakannya, kali ini diiringi dengan mengerasnya ketukan hingga hampir menyerupai gedoran.

Dyah Kinanti mendadak tersadar dari keterkejutannya. Tapi entah apa yang menahannya untuk tidak berteriak membalas memanggil penjaga penjara di luar sana. Ditariknya kainnya yang tersampir di pinggir kolam, dan dihampirinya sosok yang jatuh tadi.

“Gusti…,” kali ini gedoran di pintu kian menguat, dan nada suara prajurit di depan sudah tidak terkontrol lagi.

“Ya…,” Kinanti membalas, tanpa mengalihkan pandangan dari sosok itu.

“Gusti baik-baik saja?”

Kali ini Kinanti sudah selangkah dari sosok itu. Dan entah apa yang membuatnya mencoba menahan suara, bersandiwara dengan nada tenang, “Aku tidak apa-apa. Hanya botol sabunku jatuh. Tidak apa. Teruskanlah berjaga.”

“Maaf mengganggu ketenangan Gusti,” dan teriakan di luar pun berlalu.

Kinanti memberanikan diri mengulurkan tangannya meraih sosok itu. Entah ia pingsan atau mati, yang jelas ia tidak bergerak sama sekali. Dan ia demam, panas sekali begitu Kinanti menyentuh dahinya. Dari hembusan napasnya yang masih tersisa, dan detak nadi di lehernya, walau samar terasa, Kinanti tahu ia masih hidup.

Gadis itu pun mengumpulkan kekuatannya untuk membalik sosok itu. Alangkah terkejutnya ia, tatkala mendapati bahwa sosok itu adalah seorang perempuan. Terlebih ketika ia memberanikan diri menyingkap rambut kusut masai yang menutupi wajah sosok itu, dan mengusapkan kainnya membersihkan noda-noda kotor di sana.

Wajah itu tidak secantik rembulan. Kulitnya tidak halus, kasar dan kusam, terlebih di bawah penerangan samar. Dan luka-luka serta memar entah apa terpajang di sana.

Tetapi perempuan itu masih muda, sangat muda. Usianya mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun, bahkan bukan tak mungkin lebih muda ketimbang dirinya sendiri.

Satu tanda tanya keraguan mulai terbit di hati Kintan. Inikah buronan penjara itu? Bukankah lebih masuk akal bila ia adalah seorang budak yang melarikan diri dari tuannya, atau anak gadis yang dijual untuk menghidupi keluarganya, atau selir orang kaya yang kebetulan mengidap penyakit suka menyiksa?

Dan dalam sekejap, rasa kasihan mulai terbit di hatinya, mengalahkan ketakutannya. Tidak, gadis semuda ini tidak mungkin buronan penjara.

Lebih dari segalanya, bukannya ia tidak mendengar ucapan si penjaga taman tadi. Buronan yang sedang dicari itu katanya menewaskan dua penjaga dan melukai tiga lainnya dalam pelariannya. Dan ia merebut pedang penjaga, menyeret pedang yang berlumur darah itu dengan seringai tawa di wajahnya yang bersimbah darah. Hampir seperti maniak gila. Bagaimanapun, image tentang seorang pembunuh tidak secuil pun tampak di raut wajah sosok lemah di hadapan Kinanti saat ini.

Tidak, gadis ini tidak mungkin pembunuh buron.

Tapi waktu tak memberikan Kinanti banyak waktu untuk menimbang dan berpikir. Suara gedoran di pintu kembali terdengar, kali ini ditingkah suara lain. Dua suara. Satu adalah suara penjaga tadi, yang seolah berusaha mencegah seseorang lain masuk dengan nada ketakutan. Mencegah pemilik suara kedua itu. Suara pria yang lebih tajam. Suara yang dikenalnya dan amat dibencinya.

Kinanti menarik sosok lemah itu bahkan tanpa berpikir. Menceburkannya ke dalam kolam bersamanya. Dan menarik kainnya menutupi sosok itu.

“Kau di dalam, Kintan? Biarkan aku masuk!”

“Rakai Patiluan!” balas Kintan, berusaha menjaga agar suaranya terdengar tenang dan berwibawa, “Kau tahu amat tidak sopan menggedor pintu selagi seorang gadis sedang mandi, bukan?”

“Aku tak peduli! Aku masuk!” dan dengan satu tendangan, pintu menjeblak terbuka, menampakkan sosok seorang pria yang berjalan dengan pongahnya, diikuti sosok si penjaga yang tampak mengkeret ketakutan di belakangnya.

“Maafkan hamba, Gusti. Hamba sudah bilang …”

“Tidak apa. Aku sudah tahu sifat Duli-mu yang satu ini. Dan aku juga memaklumi kelancangannya.”

Ia mengatakan kata ‘Duli’ dengan penuh tekanan, seperti buluh tajam. Dan sosok bernama Patiluan itu mengendus kasar.

“Kelancangan-mu yang aku maafkan, Kintan. Aku bahkan tak tahu kau diizinkan memakai kolam ini. Terlebih di saat seperti ini, sendirian pula.”

“Begitukah? Jika kau tidak tahu, Yang Mulia Paduka Kertanegara sendiri yang mengizinkanku mandi, jika tidak bisa dibilang menyuruhku. Apa kau berani mempertanyakan titah Beliau?”

“O ya? Dan atas dasar kesempatan apa kau bisa mendapatkan izin itu?”

“Itu izin khusus yang diberikan …”

“Atas dasar apa kau bisa bicara dengan Yang Mulia, sehingga kau bisa mendapatkan izin itu?” Patiluan meralat pertanyaannya yang tidak jelas, setengah berteriak.

Kintan memandang lurus kepadanya, lantas menekankan dengan nada tenang, “Yang Mulia memanggilku tadi siang, untuk membicarakan hal penting.”

“Hal penting apa? Kau …” teriakan beringas Patiluan yang lebih pada mempertanyakan daripada menanyakan itu terhenti seketika. Wajahnya merah padam dan pandangannya langsung menembus mata Kintan, seakan siap memberangusnya.

Kintan tahu ada satu kata kasar yang sudah hinggap di ujung bibir pria itu yang urung diucapkannya. Tapi tertahannya kata itu sama sekali tidak membuatnya merasa tidak lebih terhina.

Kintan membalas dengan pandangan tak tergoyahkan. Nadanya tetap tenang. “Adalah hak Paduka untuk memanggil siapapun yang ia kehendaki, dan adalah kewajiban siapapun rakyat negeri ini untuk menjawab panggilan itu.”

“Dan seorang perempuan tak bermartabat sepertimu akan siap datang kapan pun, tak peduli apa di balik panggilan itu,” nada suara Patiluan merendah, namun tetap tajam wujudnya. Kintan bisa mengendus bau alkohol menguar dari mulut pria itu, ketika wajahnya hanya berjarak setelapak tangan dari wajahnya.

Ia bertekad untuk menghancurkan pria itu.

“Tidakkah seharusnya kau mengejar buronan penjara yang kau loloskan, Yang Mulia? Kudengar ia membunuh dua anak buahmu?”

“Jangan mengubah pembicaraan!”

“Aku bicara demi nama baikmu, atau kau lebih suka ayahandamu yang malang kerepotan mencari cara supaya kau tetap dipertahankan?”

“Diam…”

“Tidakkah kau juga peduli berapa banyak upaya yang ia keluarkan agar kau tetap berada di kursi kecilmu itu …”

“Diam…”

“Berapa orang yang harus ia yakinkan akan bakatmu…”

“Diam…”

“Dan bagaimana ia harus menjaga agar hanya kau yang menonjol…”

“Diam!”

“… Demi untuk pengangkatan resmimu…”

“Diam kataku!”

“… Sementara kau sendiri tak menunjukkan satu prestasi pun?”

“DIAM!” raung Patiluan. Mukanya benar-benar merah padam, hampir menghitam. Dan ia mengatakan kalimat selanjutnya dengan badan bergetar hebat, “Aku akan mendapatkan hakku! Itu sudah pasti!”

“Kalau begitu urusi pekerjaanmu dan berhenti menggangguku dengan kekurangajaranmu!” teriak Kintan sungguh-sungguh. Patiluan terpana. Ia jarang mendengar gadis itu berteriak, walau ia sudah mengenal betul sindiran-sindiran tajamnya dan kekeraskepalaannya. Ia mundur selangkah, berusaha memunguti harga dirinya yang terserak dalam dunianya yang terus berputar karena pengaruh alkohol.

“Baik. Akan kulakukan! Akan kutangkap dan kubunuh buronan itu untukmu!”

“Itu bagus.”

“Dan setelah itu, aku akan kembali untuk menyumpal mulut kurang ajarmu itu dengan darahmu!”

Kintan terpana sejenak, menelan ludah. Tetapi ia cepat membangun kembali bentengnya dan berkata dengan penuh wibawa, “Akan kunanti waktunya.”

Patiluan membuang muka, berteriak memanggil penjaga yang sejak tadi menggigil di sudut.

“Kau ambilkan aku segel kepala penjara, dan pedangku yang terbaik!" katanya tanpa menunggu si penjaga mendekat. "Buat surat perintah pada penjaga perbatasan untuk menutup gerbang! Juga panggil wakil-wakilku dan suruh mereka terjun langsung mengepalai pengejaran! Cepat!”

Si penjaga tak pernah berhubungan dengan penjara sebelumnya, dan pemberian tugas itu jelas membuatnya kebingungan.

“Hamba, Tuan?”

“Ya, kamu!”

“Tapi…” ia menelan ludah. “Di mana hamba harus mendapatkan segel … lalu surat perintah … dan mencari wakil Tuan … itu …”

Suara si penjaga tercekat, dan Kintan terpekik. Patiluan sudah meraih keris kecil milik Kintan yang tergeletak di baki di pinggiran kolam dan melemparnya—langsung menembus leher si penjaga.

Penjaga malang itu mati tersedak darahnya sendiri. Kintan melolong ngeri, dan mulai menghujat tidak jelas.

“Kau kejam! Tidak berperikemanusiaan! Iblis!”

“Dia lamban! Bodoh! Tolol!” maki Patiluan, mendekati mayat itu dan mulai sembarangan menendanginya dengan kuda-kuda sempoyongan. “Dan lagipula ia sudah mendengar terlalu banyak, apa yang kauharap kulakukan?! Memberinya hadiah?!”

Tiba-tiba terdengar lagi lolongan ketakutan yang panjang dan menggetarkan. Tapi itu tidak keluar dari mulut Kintan, yang sudah membekap mulutnya sendiri.

Bersamaan, Kintan dan Patiluan memalingkan muka ke arah sumber suara. Satu sosok ada di sana, seorang gadis muncul tiba-tiba entah dari mana, bersandar lemas pada gerbang taman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar