Senin, Juni 01, 2009

rontal satu - dara di awal malam (1)

rontal satu
dara di awal malam


Ini garisan alam.

Dua alur tipis merah terang menyayat udara, menyilang dalam hitamnya malam, lantas pendar menjadi bola-bola kecil sebelum akhirnya tertarik gravitasi bumi, jatuh memberkahi tanah.

Turun bersama garis-garis hujan yang bagai serbuan ribuan jarum halus utusan para dewa.

Dan dialah itu, sosok di tengah hujan.

Tubuhnya mengawang—bergerak cepat di antara tanah dan udara. Meninggalkan ciprat air dan lumpur tiap kali kakinya menjejak.

Lari, lari, lari.

Tiada yang dapat dipikirkannya selain lari. Bahkan mungkin ia sama sekali tidak berpikir saat diambilnya langkah berputar memunggungi tubuh yang sudah jatuh itu. Dan ditinggalkannya tubuh itu dalam hujan. Membiarkan darahnya luntur oleh hujan yang terus membuncah, seiring dengan lepasnya nyawa dalam erangan terakhirnya.

Dan darah yang semula masih mengalir pada nadi sosok yang sudah tumbang itu masih menetes dari ujung pedang yang dipegangnya. Jatuh ke tanah menanda jejak pada setiap langkah pelariannya. Tapi tiada jejak, tiada tapak di tanah yang basah, tiada darah menetes pada setiap langkah. Hujan mengguyur seluruhnya.

◊ ◊ ◊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar